Senin, 20 Desember 2010

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN

A. FAKTOR EKSTERN
  1. Air dan Mineral berpengaruh pada pertumbuhan tajuk 2 akar. Diferensiasi salah satu unsur hara atau lebih akan menghambat atau menyebabkan pertumbuhan tak normal.
  2. Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara : Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
  3. Suhu  di antaranya mempengaruhi kerja enzim. Suhu ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan yang paling baik adalah suhu optimum, yang berbeda untuk tiap jenis tumbuhan. Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti
  4. Faktor Cahaya Matahari. Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.

B. FAKTOR INTERN
  1. Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang. Mengenai hormon tanaman:
a.  Auksin adalah senyawa asam indol asetat (IAA) yang dihasilkan di ujung meristem apikal (ujung akar dan batang). F.W. Went (1928) pertama kali menemukan auksin pada ujung koleoptil kecambah gandum Avena sativa.
-  Membantu perkecambahan
-  Dominasi apikal
b.  Giberelin : Senyawa ini dihasilkan oleh jamur Giberella fujikuroi atau Fusarium moniliformae, ditemukan oleh F. Kurusawa. Fungsi giberelin :
-  Pemanjangan tumbuhan
-  Berperan dalam partenokarpi
c.  Sitokinin : Pertama kali ditemukan pada tembakau. Hormon ini merangsang pembelahan sel.
d.  Gas etilen : Banyak ditemukan pada buah yang sudah tua.
e.  Asam absiat
Asam absiat berfungsi untuk :
-  Menghambat pembelahan dan pemanjangan sel.
-  Menunda pertumbuhan atau dormansi.
-  Merangsang penutupan mulut daun pada musim kering, sehingga mengurangi aktifitas transpirasi.
f.  Florigen : Hormon yang berfungsi untuk merangsang pembentukan bunga.
g.  Kalin : Hormon yang berfungsi merangsang organ tumbuhan. Hormon pertumbuhan organ, terdiri dari :
-  Rhizokalin : Hormon yang merangsang pembentukan akar, identik dengan vitamin B
- Kaulokalin : Hormon yang merangsang pembentukan batang
- Filokalin : Hormon yang merangsang pembentukan daun
- Antokalin : Hormon yang merangsang pembentukan bunga
h.  Asam traumalin atau kambium luka : Merangsang pembelahan sel di daerah luka sebagai mekanisme untuk menutupi luka.
Terdapat 2 macam pertumbuhan, yaitu:
  1. Pertumbuhan Primer
Terjadi sebagai hasil pembelahan sel – sel  jaringan meristem primer. Berlangsung pada embrio, bagian ujung-ujung dari tumbuhan seperti akar dan batang. Embrio memiliki 3 bagian penting :
a.  Tunas embrionik yaitu calon batang dan daun
b.  Akar embrionik yaitu calon akar
c.  Kotiledon yaitu cadangan makanan
Pertumbuhan tanaman dapat diukur dengan alat yang disebut auksanometer.
Daerah pertumbuhan pada akar dan batang berdasar aktivitasnya tcrbagi menjadi 3 daerah, yaitu :
  • Daerah pembelahan
Sel-sel di daerah ini aktif membelah (meristematik)
  • Daerah pemanjangan : Berada di belakang daerah pembelahan
  • Daerah diferensiasi : Bagian paling belakang dari daerah pertumbuhan. Sel-sel mengalami diferensiasi membentuk akar yang sebenarnya serta daun muda dan tunas lateral yang akan menjadi cabang.
2.  Pertumbuhan Sekunder
Merupakan aktivitas sel – sel meristem sekunder yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan ini dijumpai pada tumbuhan dikotil, gymnospermae dan menyebabkan membesarnya ukuran (diameter) tumbuhan. Mula-mula kambium hanya terdapat pada ikatan pembuluh, yang disebut kambium vasis atau kambium intravasikuler. Fungsinya adalah membentuk xilem dan floem primer. Selanjutnya parenkim akar/batang yang terletak di antara ikatan pembuluh, menjadi kambium yang disebut kambium intervasis. Kambium intravasis dan intervasis membentuk lingkaran tahun bentuk konsentris. Kambium yang berada di sebelah dalam jaringan kulit yang berfungsi sebagai pelindung. Terbentuk akibat ketidakseimbangan antara permbentukan xilem dan floem yang lebih cepat dari pertumbuhan kulit.
-  Ke dalam membentuk feloderm  : sel-sel hidup
-  Ke luar membentuk  felem             : sel-sel mati

Hormon

Hormon tumbuhan
Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah “hormon” sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan; dan, sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan istilah ini karena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian zat-zat tertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dari luar sistem individu). Mereka lebih suka menggunakan istilah zat pengatur tumbuh (bahasa Inggris plant growth regulator).
Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan. Bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya.
Pemahaman terhadap fitohormon pada masa kini telah membantu peningkatan hasil pertanian dengan ditemukannya berbagai macam zat sintetis yang memiliki pengaruh yang sama dengan fitohormon alami. Aplikasi zat pengatur tumbuh dalam pertanian modern mencakup pengamanan hasil (seperti penggunaan cycocel untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap lingkungan yang kurang mendukung), memperbesar ukuran dan meningkatkan kualitas produk (misalnya dalam teknologi semangka tanpa biji), atau menyeragamkan waktu berbunga (misalnya dalam aplikasi etilena untuk penyeragaman pembungaan tanaman buah musiman), untuk menyebut beberapa contohnya.
Sejauh ini dikenal sejumlah golongan zat yang dianggap sebagai fitohormon, yaitu
  Auksin
  Sitokinin
  Giberelin atau asam giberelat (GA)
  Etilena
  Asam absisat (ABA)
  Asam jasmonat
  Steroid (brasinosteroid)
  Salisilat
  Poliamina.
 
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan
A. Faktor Luar
1. Air dan Mineral Þ berpengaruh pada pertumbuhan tajuk 2 akar. Diferensiasi salah satu unsur hara atau lebih akan menghambat atau menyebabkan pertumbuhan tak normal.
2. Kelembaban.
3. Suhu Þ di antaranya mempengaruhi kerja enzim. Suhu ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan yang paling baik adalah suhu optimum, yang berbeda untuk tiap jenis tumbuhan.
4. Cahaya Þ mempengaruhi fotosintesis. Secara umum merupakan faktor penghambat.
Etiolasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat di tempat yang gelap
Fotoperiodisme adalah respon tumbuhan terhadap intensitas cahaya dan panjang penyinaran.
B. Faktor Dalam
1. Faktor hereditas.
2. Hormon.
a. Auksin adalah senyawa asam indol asetat (IAA) yang dihasilkan di ujung meristem apikal (ujung akar dan batang). F.W. Went (1928) pertama kali menemukan auksin pada ujung koleoptil kecambah gandum Avena sativa.
- membantu perkecambahan
- dominasi apikal
b. Giberelin adalah senyawa ini dihasilkan oleh jamur Giberella fujikuroi atau Fusarium moniliformae, ditemukan oleh F. Kurusawa. Fungsi giberelin :
- pemanjangan tumbuhan
- berperan dalam partenokarpi
c. Sitokinin
Pertama kali ditemukan pada tembakau. Hormon ini merangsang pembelahan sel.
d. Gas etilen
Banyak ditemukan pada buah yang sudah tua
e. Asam absiat
f. Florigen
g. Kalin
Hormon pertumbuhan organ, terdiri dari :
- Rhizokalin
- Kaulokali
- Filokalin
- Antokalin
h. Asam traumalin atau kambium luka
Merangsang pembelahan sel di daerah luka sebagai mekanisme untuk menutupi luka
Salisbury dan Ross (1995) menambahkan hormon yang pertama kali ditemukan adalah auksin.   Auksin endogen yaitu IAA (Indol Acetic Acid) ditemukan  pada tahun 1930-an bahkan saat itu hormon mula-mula dimurnikan dari air seni.  Karena semakin banyak hormon ditemukan maka efek serta konsentrasi endogennya dikaji.  Hormon pada tanaman jelas mempunyai ciri : setiap hormon mempengaruhi respon pada bagian tumbuhan, respon itu bergantung pada species, bagian tumbuhan, fase perkembangan, konsentrasi hormon, interaksi antar hormon, yang diketahui dan berbagai faktor lingkungan yaitu cahaya, suhu, kelembaban, dan lainnya.

Hormon ABA (Asam absisat)
Semua jaringan tanaman terdapat hormon ABA yang dapat dipisahkan secara kromatografi Rf 0.9.   Senyawa tersebut merupakan inhibitor B –kompleks.  Senyawa ini mempengaruhi proses pertumbuhan, dormansi dan absisi.   Beberapa peneliti akhirnya menemukan senyawa yang sama yaitu asam absisat (ABA).   Peneliti tersebut yaitu Addicott et al dari California USA pada tahun 1967 pada tanaman kapas dan Rothwell serta Wain pada tahun 1964 pada tanaman lupin (Wattimena 1992).
Menurut Salisbury dan Ross (1995) zat pengatur tumbuhan yang diproduksi di dalam tanaman  disebut juga hormon tanaman.  Hormon tanaman yang dianggap sebagai hormon stress diproduksi dalam jumlah besar ketika tanaman mengalami berbagai keadaan rawan diantaranya yaitu ABA.  Keadaan rawan tersebut antara lain kurang air,  tanah bergaram, dan suhu dingin atau panas.  ABA membantu tanaman mengatasi dari keadaan rawan tersebut.
 ABA adalah seskuiterpenoid berkarbon 15, yang disintesis sebagian di kloroplas dan plastid melalui lintasan asam mevalonat (Salisbury dan Ross 1995).   Reaksi awal sintesis ABA sama dengan reaksi sintesis isoprenoid seperti gibberelin sterol dan karotenoid.   Menurut Crellman (1989) biosintesis ABA pada sebagian besar tumbuhan terjadi secara  tak langsung melalui peruraian karotenoid tertentu (40 karbon) yang ada di plastid.  ABA pergerakannya dalam tumbuhan sama dengan pergerakan gibberelin yaitu dapat diangkut secara mudah melalui xilem floem dan juga sel-sel parenkim di luar berkas pembuluh.   

Hormon IAA (asam indol- 3 asetat)

Istilah auksin pertama kali digunakan oleh Frist Went seorang mahasiswa PascaSarjana di negeri Belanda pada tahun 1926 yang kini diketahui sebagai asam indol-3 asetat atau IAA (Salisbury dan Ross  1995).   Senyawa ini terdapat cukup banyak di ujung koleoptil tanaman oat ke arah cahaya.   Dua mekanisme sintesis IAA yaitu pelepasan gugus amino dan gugus karboksil akhir dari rantai triphtofan.  Enzim yang paling aktif diperlukan untuk mengubah tripthofan menjadi IAA terdapat di jaringan muda seperti meristem tajuk, daun serta buah yang sedang tumbuh.  Semua jaringan ini kandungan IAA paling tinggi  karena disintesis di daerah tersebut.
IAA terdapat di akar pada konsentrasi yang hampir sama dengan di bagian tumbuhan lainnya (Salisbury dan Ross  1995).   IAA dapat memacu pemanjangan akar pada konsentrasi yang sangat rendah.  IAA  adalah auksin endogen atau auksin yang terdapat dalam tanaman.  IAA berperan dalam aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu pembesaran sel yaitu koleoptil atau batang penghambatan mata tunas samping, pada konsentrasi tinggi menghambat pertumbuhan mata tunas untuk menjadi tunas absisi (pengguguran) daun aktivitas dari kambium dirangsang oleh IAA pertumbuhan akar  pada konsentrasi tinggi dapat menghambat perbesaran sel-sel akar.
Penelitian IAA oleh Gregorio et al (1995) pada embrio, endosperma, dan integumen benih Sechium edule (labu Siam) pada umur 23, 27, 33, dan 37 hari setelah anthesis adalah sebagai berikut: 1) jumlah IAA pada embrio pada umur tersebut berturut-turut 1.67%, 2.08%, 3.40 % dan 3.29 %, 2) Jumlah IAA pada endosperma berturut-turut 20.45%, 25.72%, 30,40%, dan 52.22% dari total IAA, dan 3) Jumlah IAA pada integumen adalah 8.44%, 9.32%, 8.76% dan 8.04%,  dan 4) Jumlah IAA total ( IAA terikat maupun IAA bebas) cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya kemasakan benih labu Siam.
Itu baru sebagian yang saya copy, semoga bermanfaat, masih ada lagi file yg belum saya posting, yang penting ini dibaca dulu, kalo udah kapan2 saya posting lagi
 

Jumat, 10 Desember 2010

Daster Fistum

Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan

Tumbuhan merupakan salah satu organisme hidup yang memiliki ciri-ciri, antara lain tumbuh dan berkembangbiak. Tumbuhan berbiji (monokotil dan dikotil) memiliki alat perkembangbiakan berupa biji. Mari cermati.
1. Struktur Biji
Biji adalah alat reproduksi, penyebaran, dan kelangsungan hidup suatu tumbuhan. Selain itu, bagi tumbuhan berbiji, biji merupakan awal dari kehidupan tumbuhan baru di luar induknya. Jika biji tanaman dikotil seperti kacangkacangan, kamu belah menjadi dua, kamu akan mendapatkan struktur biji yang terdiri atas plumula, hipokotil, radikula, kotiledon dan embrio.

Sedangkan, struktur biji tanaman monokotil, misalnya jagung terdiri atas koleoptil, plumula, radikula, koleoriza, skutelum dan endosperma.
Bagian-bagian biji tersebut mempunyai fungsi masingmasing untuk pertumbuhan tanaman. Pada biji tanaman dikotil maupun monokotil, plumula merupakan poros embrio yang tumbuh ke atas yang selanjutnya akan tumbuh menjadi daun pertama, sedangkan radikula adalah poros embrio yang tumbuh ke bawah dan akan menjadi akar primer. Pada tanaman monokotil, misalnya jagung, kotiledon mengalami modifikasi menjadi skutelum dan koleoptil. Skutelum berfungsi sebagai alat penyerap makanan yang terdapat di dalam endosperma, sedangkan koleoptil berfungsi melindungi plumula. Selain itu, pada jagung juga terdapat koleoriza yang berfungsi melindungi radikula.
2. Perkecambahan
Perkecambahan adalah peristiwa tumbuhnya embrio di dalam biji menjadi tanaman baru. Biji akan berkecambah jika berada dalam lingkungan yang sesuai. Proses perkecambahan ini memerlukan suhu yang cocok, banyaknya air yang memadai, persediaan oksigen yang cukup, kelembapan, dan cahaya. Struktur biji yang berbeda antara tumbuhan monokotil dan dikotil akan menghasilkan struktur kecambah yang berbeda pula. Pada tumbuhan monokotil, struktur kecambah meliputi radikula, akar primer, plumula, koleoptil, dan daun pertama. Sedangkan, pada kecambah tumbuhan dikotil terdiri atas akar primer, hipokotil, kotiledon, epikotil, dan daun pertama.
Berdasarkan letak kotiledonnya, perkecambahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu epigeal dan hipogeal.
1 - Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan 1
a. Pada perkecambahan epigeal, kotiledon terdapat di permukaan tanah karena terdorong oleh pertumbuhan hipokotil yang memanjang ke atas.
b. Pada perkecambahan hipogeal, kotiledon tetap berada di bawah tanah, sedangkan plumula keluar dari permukaan tanah disebabkan pertumbuhan epikotil yang memanjang ke arah atas.
1 - Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan 2
3. Fisiologi Perkecambahan
Untuk memulai kehidupannya, biji harus berkecambah menjadi tanaman baru. Perkecambahan biji dimulai dengan imbibisi dan diakhiri ketika radikula memanjang atau muncul melewati kulit. Perkecambahan biji dapat dibagi menjadi 4 tahap, yaitu :
a) Hidrasi atau imbibisi; selama kedua periode tersebut, air masuk ke dalam embrio dan membasahi protein dan koloid lain.
b) Pembentukan atau pengaktifan enzim yang menyebabkan peningkatan aktivitas metabolik.
c) Pemanjangan sel radikula, diikuti munculnya radikula dari kulit biji.
d) Pertumbuhan kecambah selanjutnya adalah pertumbuhan primer.
4. Pertumbuhan Primer
Setelah proses perkecambahan, tumbuhan mengalami pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut. Tumbuhan akan membentuk akar, batang, dan daun. Ujung batang dan ujung akar akan tumbuh memanjang karena adanya aktivitas sel-sel meristematis. Proses ini disebut pertumbuhan primer. Sel-sel meristem dapat juga berdiferensiasi menjadi sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi yang khusus.
Daerah pertumbuhan pada ujung batang dan ujung akar dapat dibedakan menjadi 3 daerah, yaitu:
a) Daerah pembelahan terdapat pada ujung akar.
Sel-sel meristem di daerah ini akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan struktur akar pertama.
b) Daerah pemanjangan terletak setelah daerah pembelahan. Pada daerah ini, sel-sel mengalami pembesaran dan pemanjangan.
c) Daerah diferensiasi. Daerah yang sel-selnya berdiferensiasi menjadi sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi khusus.
1 - Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan 3
5. Pertumbuhan Sekunder
Di antara xilem dan floem terdapat kambium yang selselnya aktif membelah. Pada tumbuhan dikotil, jaringan xilem dan floem primer terdapat pada batang dan akar yang hidup selama periode yang relatif pendek. Kemudian, fungsinya diambil alih oleh jaringan pembuluh sekunder yang dihasilkan oleh kambium yang aktif membelah.
Pertumbuhan kambium ke arah luar membentuk floem sekunder, dan ke arah dalam membentuk xilem sekunder sehingga batang tumbuhan bertambah besar. Aktivitas kambium yang membentuk xilem dan floem sekunder ini disebut pertumbuhan sekunder. Semua jaringan yang ada di sebelah dalam kambium disebut kayu, sedangkan di sebelah luar kambium disebut kulit atau papagan.
Pembentukan xilem dan floem sekunder pada batang terjadi karena aktivitas kambium yang dipengaruhi oleh musim. Jika kondisi lingkungan kurang menguntungkan, maka aktivitas kambium menjadi rendah sehingga xilem dan floem sekunder yang dihasilkan sedikit. Namun sebaliknya, pada musim hujan, aktivitas kambium ini akan meningkat. Perbedaan aktivitas kambium akan menghasilkan jejak pada batang yang disebut lingkaran tahun.

Sabtu, 20 November 2010

Klorofil

Klorofil merupakan zat hijau daun yang terdapat pada semua tumbuhan hijau yang berfotosintesis. Berdasarkan penelitian, klorofil ternyata tidak hanya berperan sebagai pigmen fotosintesis. Klorofil mempunyai manfaat antara lain, sebagai obat kanker otak, paru-paru, dan mulut [10]. Klorofil juga dapat digunakan sebagai desinfektan, antibiotik dan food suplemen. Klorofil dapat digunakan sebagai food suplemen karena mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk tubuh manusia [2].
Adanya manfaat klorofil yang banyak tersebut, maka diperlukan suatu usaha untuk meningkatkan
kandungan
klorofil
pada tanaman. Usaha peningkatan kandungan klorofil tersebut salah satunya bisa dilakukan dengan volume penyiraman yang sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam. Oleh karena itu perlu diketahui volume penyiraman yang tepat pada suatu tanaman agar pertumbuhan dan kandungan klorofilnya maksimal.

Pernahkah Anda Berpikir Mengapa Tanaman Berwarna Hijau?
Sebagaimana telah jelas terlihat, warna-warna yang umum dalam dunia tanaman adalah hijau atau nuansa warna hijau. Klorofil (zat hijau daun) adalah bahan utama yang menghasilkan warna hijau. Klorofil, suatu bahan yang sangat penting, adalah sebuah pigmen yang terkandung dalam kloroplas yang tersebar dalam sitoplasma (cytoplasm) sel-sel tanaman. Pigmen-pigmen ini menyerap cahaya yang berasal dari matahari dengan mudah, tetapi hanya memantulkan warna hijau. Selain memberi warna hijau pada daun, hal ini juga menyebabkan terpenuhinya kelangsungan sebuah proses yang sangat menentukan, yang dikenal dengan nama "fotosintesis".
Dalam fotosintesis, tanaman memanfaatkan sinar matahari, yang terdiri dari kombinasi berbagai warna. Salah satu sifat warna-warna dalam sinar matahari yang terpenting adalah bahwa tingkat energi mereka berbeda satu sama lain. Ragam warna ini dinamakan spektrum, yang diperoleh dari pembiasan warna dalam sebuah prisma misalnya, mempunyai warna merah dan kuning di ujung yang satu, dan biru dan ungu pada ujung lainnya. Warna dengan tingkat energi paling tinggi adalah warna pada ujung biru spektrum tersebut.
Perbedaan tingkat energi warna sangat penting bagi tanaman, karena mereka memerlukan sejumlah besar energi untuk melangsungkan fotosintesis. Untuk itu, selama fotosintesis berlangsung, tanaman menyerap cahaya matahari dengan tingkat energi tertinggi di sekitar ujung ultraviolet dari spektrum, yaitu violet dan biru, dan juga warna sekitar ujung inframerah (panas) dari spektrum, yaitu merah, oranye dan kuning. Daun melakukan semua proses ini melalui pigmen klorofil yang terdapat dalam kloroplas.52
Agar tanaman dapat melakukan fotosintesis, tingkat energi partikel cahaya yang diserap oleh klorofil harus mencukupi. Proses fotosintesis dimulai saat tanaman, dengan energi yang diterimanya dari partikel sinar, menguraikan molekul air menjadi molekul oksigen dan hidrogen. Hidrogen bereaksi dengan karbon dalam gas karbondioksida untuk membentuk getah, yang penting bagi kelangsungan hidup tanaman. Dengan kata lain, tanaman memproduksi makanannya sendiri. Di sisi lain, oksigen yang tidak terpakai, dilepaskan ke udara. Sebagian besar oksigen dalam atmosfer yang kita hirup diproduksi dengan cara seperti itu.
Proses fotosintesis pada tanaman menghasilkan karbohidrat, salah satu sumber makanan utama bagi makhluk hidup lain. Zat yang dihasilkan selama proses fotosintesis sangat penting baik bagi tanaman itu sendiri, maupun bagi binatang dan manusia, karena tanaman adalah sumber makanan utama bagi semua makhluk hidup di bumi.
Sebagaimana telah kita pahami, selain memberikan penampilan estetis, warna hijau pada tanaman juga sangat menentukan bagi kelangsungan hidup tanaman dan makhluk hidup lainnya. Allah menciptakan zat klorofil sebagai sumber makanan bagi tanaman dan semua makhluk hidup lainnya.



Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya
berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari
melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam
melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus
memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi
kimia.
Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang.
Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.
Daun segar (kiri) dan tua. Daun tua telah kehilangan klorofil sebagai bagian dari
penuaan.
Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah
senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang
energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain,
misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin
(berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan
klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan
jelas pada daun yang gugur).

Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan memanfaatkan energi cahaya. Fotosintesis juga dapat di artikan proses penyusunan atau pembentukan dengan menggunakan energi cahaya atau foton. Sumber energi cahaya alami adalah matahari yang memiliki spektrum cahaya infra merah (tidak kelihatan), merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu dan ultra ungu (tidak kelihatan).
Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari [[CO2]] diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang.
Anabolisme adalah suatu peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi senyawa kompleks, nama lain dari anabolisme adalah peristiwa sintesis atau penyusunan. Anabolisme memerlukan energi, misalnya : energi cahaya untuk fotosintesis, energi kimia untuk kemosintesis.
Yang digunakan dalam proses fetosintesis adalah spektrum cahaya tampak, dari ungu sampai merah, infra merah dan ultra ungu tidak digunakan dalam fotosintesis.
Dalam fotosintesis, dihasilkan karbohidrat dan oksigen, oksigen sebagai hasil sampingan dari fotosintesis, volumenya dapat diukur, oleh sebab itu untuk mengetahui tingkat produksi fotosintesis adalah dengan mengatur volume oksigen yang dikeluarkan dari tubuh tumbuhan.
Untuk membuktikan bahwa dalam fotosintesis diperlukan energi cahaya matahari, dapat dilakukan percobaan Ingenhousz.
2. Pigmen Fotosintesis
Fotosintesis hanya berlangsung pada sel yang memiliki pigmen fotosintetik. Di dalam daun terdapat jaringan pagar dan jaringan bunga karang, pada keduanya mengandung kloroplast yang mengandung klorofil / pigmen hijau yang merupakan salah satu pigmen fotosintetik yang mampu menyerap energi cahaya matahari.
Dilihat dari strukturnya, kloroplas terdiri atas membran ganda yang melingkupi ruangan yang berisi cairan yang disebut stroma. Membran tersebut membentak suatu sistem membran tilakoid yang berwujud sebagai suatu bangunan yang disebut kantung tilakoid. Kantung-kantung tilakoid tersebut dapat berlapis-lapis dan membentak apa yang disebut grana Klorofil terdapat pada membran tilakoid dan pengubahan energi cahaya menjadi energi kimia berlangsung dalam tilakoid, sedang pembentukan glukosa sebagai produk akhir fotosintetis berlangsung di stroma.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan klorofil antara lain :
1. Gen :
bila gen untuk klorofil tidak ada maka tanaman tidak akan memiliki
klorofil.
2. Cahaya :
beberapa tanaman dalam pembentukan klorofil memerlukan cahaya,
tanaman lain tidak memerlukan cahaya.
3. Unsur N. Mg, Fe :
merupakan unsur-unsur pembentuk dan katalis dalam sintesis klorofil.
4. Air :
bila kekurangan air akan terjadi desintegrasi klorofil.
Pada tabun 1937 : Robin Hill mengemukakan bahwa cahaya matahari yang ditangkap oleh klorofil digunakan untak memecahkan air menjadi hidrogen dan oksigen. Peristiwa ini disebut fotolisis (reaksi terang).
H2 yang terlepas akan diikat oleh NADP dan terbentuklah NADPH2, sedang O2 tetap dalam keadaan bebas. Menurut Blackman (1905) akan terjadi penyusutan CO2 oleh H2 yang dibawa oleh NADP tanpa menggunakan cahaya. Peristiwa ini disebut reaksi gelap NADPH2 akan bereaksi dengan CO2 dalam bentuk H+ menjadi CH20.
CO2 + 2 NADPH2 + O2 ————> 2 NADP + H2 + CO+ O + H2 + O2
Ringkasnya :
Reaksi terang : 2 H20 ——> 2 NADPH2 + O2
Reaksi gelap : CO2 + 2 NADPH2 + O2——>NADP + H2 + CO + O + H2 +O2
atau
2 H2O + CO2 ——> CH2O + O2
atau
12 H2O + 6 CO2 ——> C6H12O6 + 6 O2
3. Kemosintesis
Tidak semua tumbuhan dapat melakukan asimilasi C menggunakan cahaya sebagai sumber energi. Beberapa macam bakteri yang tidak mempunyai klorofil dapat mengadakan asimilasi C dengan menggunakan energi yang berasal dan reaksi-reaksi kimia, misalnya bakteri sulfur, bakteri nitrat, bakteri nitrit, bakteri besi dan lain-lain. Bakteri-bakteri tersebut memperoleh energi dari hasil oksidasi senyawa-senyawa tertentu.
Bakteri besi memperoleh energi kimia dengan cara oksidasi Fe2+ (ferro) menjadi Fe3+ (ferri).
Bakteri Nitrosomonas dan Nitrosococcus memperoleh energi dengan cara mengoksidasi NH3, tepatnya Amonium Karbonat menjadi asam nitrit dengan reaksi:
Nitrosomonas
(NH4)2CO3 + 3 O2 ——————————> 2 HNO2 + CO2 + 3 H20 + Energi
Nitrosococcus
1. Sintesis Lemak
Lemak dapat disintesis dari karbohidrat dan protein, karena dalam metabolisme, ketiga zat tersebut bertemu di dalarn daur Krebs. Sebagian besar pertemuannya berlangsung melalui pintu gerbang utama siklus (daur) Krebs, yaitu Asetil Ko-enzim A. Akibatnya ketiga macam senyawa tadi dapat saling mengisi sebagai bahan pembentuk semua zat tersebut. Lemak dapat dibentuk dari protein dan karbohidrat, karbohidrat dapat dibentuk dari lemak dan protein dan seterusnya.
4.1. Sintesis Lemak dari Karbohidrat :
Glukosa diurai menjadi piruvat ———> gliserol.
Glukosa diubah ———> gula fosfat ———> asetilKo-A ———> asam lemak.
Gliserol + asam lemak ———> lemak.
4.2. Sintesis Lemak dari Protein:
Protein ————————> Asam Amino
protease
Sebelum terbentuk lemak asam amino mengalami deaminasi lebih dabulu, setelah itu memasuki daur Krebs. Banyak jenis asam amino yang langsung ke asam piravat ———> Asetil Ko-A.
Asam amino Serin, Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin dapat terurai menjadi Asam pirovat, selanjutnya asam piruvat ——> gliserol ——> fosfogliseroldehid Fosfogliseraldehid dengan asam lemak akan mengalami esterifkasi membentuk lemak.
Lemak berperan sebagai sumber tenaga (kalori) cadangan. Nilai kalorinya lebih tinggi daripada karbohidrat. 1 gram lemak menghasilkan 9,3 kalori, sedangkan 1 gram karbohidrat hanya menghasilkan 4,1 kalori saja.
5. Sintesis Protein
Sintesis protein yang berlangsung di dalam sel, melibatkan DNA, RNA dan Ribosom. Penggabungan molekul-molekul asam amino dalam jumlah besar akan membentuk molekul polipeptida. Pada dasarnya protein adalah suatu polipeptida.
Setiap sel dari organisme mampu untuk mensintesis protein-protein tertentu yang sesuai dengan keperluannya. Sintesis protein dalam sel dapat terjadi karena pada inti sel terdapat suatu zat (substansi) yang berperan penting sebagai “pengatur sintesis protein”. Substansi-substansi tersebut adalah DNA dan RNA..
Hasil akhir dari fotosintesis Oksigen yang sangat di perlukan bagi kehidupan manusia untuk bernafas. Di Indonesia, Oksigen terbesar di hasilkan dari hutan hutan yang masih lestari. Hutan tersebut akan menghasilkan Oksigen yang banyak sebagai salah satu manfaat hutan.

Sabtu, 06 November 2010

Tugas Protista tgl 03 November 2010

A. KARAKTERISTIK UMUM FUNGI
Fungi adalah organisme eukariot yang mempunyai dinding sel dan pada
umumnya tidak motil. Karakteristik ini menyerupai karakteristik tumbuhan. Namun
demikian fungi secara fundamental dapat dibedakan dari tumbuhan karena mereka tidak
mempunyai klorofil. Dengan demikian mereka tidak mampu melakukan proses
fotosintesis menghasilkan bahan organic dari karbondioksida dan air, sehingga mereka
disebut organisme yang heterotrof. Sifat heterotrof ini menyerupai sifat sel hewan.
Beberapa sifat yang menyerupai tumbuhan seperti disebutkan di atas,
menyebabkan secara tradisionil fungi dikelompokan dalam kingdom tumbuhan. Namun
karena keunikannya, klasifikasi modern mengelompokan mereka dalam kingdom
tersendiri yang terpisah dari kingdom tumbuhan dan hewan.
Fungi merupakan kingdom yang cukup besar terdiri dari kurang lebih 50.000
species, dan bisa mempunyai karakteristik yang berbeda-beda baik secara struktur,
fisiologi maupun reproduksinya. Fungi dapat ditemukan dalam bentuk kapang pada
permukaan sayuran, busuk, sebagai ragi pada roti maupun sebagai cendawan (jamur
berukuran besar yang tumbuh di tanah atau pada kayu-kayu lapuk. Jadi fungi mempunyai
berbagai penampilan tergantung dari speciesnya. Telaah mengenai fungi disebut
mikologi, yang berasal dari bahasa Yunani ‘mykos’ yang berarti cendawan (fungi
berbentuk payung).
Seperti telah disebutkan, fungi merupakan organisme heterotrof sehingga
memerlukan bahan organic dari luar untuk kebutuhan nutrisinya. Sebagai organisme
saprofit fungi hidup dari benda-benda atau bahan-bahan organik mati. Saprofit
menghancurkan sisa-sisa bahan tumbuhan dan hewan yang kompleks menjadi bahan
yang lebih sederhana. Hasil penguraian ini kemudian dikembalikan ke tanah sehingga
dapat meningkatkan kesuburan tanah. Disamping itu hasil penguraian dari fungi saprofit
ini dapat menghancurkan atau menguraikan sampah, kotoran hewan, bangkai hewan dan
bahanorganik lainnya, sehingga tidak terjadi penumpukan dari bahan organic mati
202
tersebut. Dengan demikian dapat mempertahankan berlangsungnya siklus materi
terutama siklus karbon, yang berperan bagi kelangsungan hidup seluruh organisme.
Fungi saprofit juga penting dalam industri fermentasi misalnya dalam pembuatan
bir, anggur, sider, produksi antibiotik, peragian roti, keju maupun makanan fermentasi
lainnya. Jadi sebagai saprofit, mereka dapat sangat menguntungkan bagi manusia. Tetapi
sebagai saprofit mereka juga dapat sangat merugikan bila mereka melapukan kayu,
tekstil, makanan dan bahan-bahan lain yang berguna.
Fungi parasit menyerap bahan organik dari organisme yang masih hidup yang
disebut inang. Fungi semacam itu dapat bersifat parasit obligat yaitu parasit sebenarnya
dan parasit fakultatif yaitu organisme yang mula-mula bersifat parasit , kemudian
membunuh inangnya, selanjutnya hidup pada inang yang mati tersebut sebagai saprofit.
Fungi parasit dapat menyerang tumbuhan, hewan maupun manusia. Dari 50.000 species
fungi yang ada, sebenarnya hanya kurang dari 300 species yang secara langsung
bertindak sebagai agen penyakit pada manusia dan hewan. Banyak fungi parasit bersifat
patogen yang juga dapat bersifat saprofit seperti Histoplasma capsulatum. Fungi seperti
ini menunjukan dimorfisme atau mempunyai dua bentuk/dua sifat hidup yaitu dalam
bentuk uniseluler seperti ragi yang bersifat parasit dalam bentuk benang/kapang yang
bersifat saprofit.
Fungi saprofit maupun fungi parasit, dapat bertahan hidup dengan mensekresikan
enzim dari dalam tubuhnya untuk menguraikan /mendegradasi berbagai macam materi
organic dai substratnyamenjadi nutrisi sederhana yang terlarut. Nutrisi yang telah berada
dalam bentuk terlarut tersebut selanjutnya diserap oleh selnya baik secara pasif maupun
dengan transport aktif.
Disamping bersifat sebagai saprofit atau parasit, fungi dapat pula bersifat sebagai
simbion, yang artinya dapat bersimbiosis dengan organisme lain. Simbiosis dengan laga
menghasilkan liken atau lumut kerak, sedangkan simbiosis dengan akar tumbuhan
konifer menghasilkan mikoriza.
Tempat hidup atau habitat dari fungi dapat sangat beragam. Fungi dapat hidup di
perairan terutama perairan tawar dan sebagian kecil di laut. Tetapi sebagian besar fungi
hidup pada habitat terrestrial baik pada tanah maupun pada materi organic yang telah
203
mati. Fungi seperti ini seperti telah dijelaskan di atas, berperan sangat penting dalam
proses mineralisasi karbon organic di alam untuk kepentingan semua organisme.
Sejumlah besar fungi parasit hidup pada tumbuhan terestrial/darat dan
menyebabkan penyakit pada sebagian besar tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi
penting. Tumbuhan bernilai ekonomi penting yang sering diserang diantaranya adalah
kentang, cokelat, lada, cengkeh, tembakau, kina dan lain-lain. Fungi parasit juga sering
menyebabkan penyakit pada manusia karena mereka dapat menyebabkan alergi,
keracunan, maupun infeksi atau pertumbuhan berlebihan.
Untuk dapat membiakan fungi di laboratorium, teknik-teknik dasar bakteriologis
dapat diterapkan. Namun karena fungi mempunyai ‘generation time’ (waktu generasi)
yang lebih panjang dari kebanyakan bakteri, maka dibutuhkan kondisi kultur yang dapat
memeliharanya lebih lama. Kondisi kultur yang dibutuhkan misalnya dengan cara
menghindarkan media dari kondisi kekeringan. Disamping itu jumlah media yang
disediakan dalam lempeng agar lebih banyak daripada lempeng agar yang disediakan
untuk bakteri, melapisis tempat media dengan paraffin untuk mencegah kekeringan dan
menginkubasikannya dalam kamar/chamber yang lebih lembab.
B. MORFOLOGI FUNGI
Fungi sebagai organisme eukariot, selnya paling tidak mempunyai satu nucleus
atau inti dengan membran intinya, retikulum endoplasma dan mitokondria. Sel fungi
mirip sel tumbuhan tinggi dan sel hewan dan jauh lebih maju dari sel mikroorganisme
pada umumnya. Hampir semua sel fungi mempunyai dinding sel kaku yang mengandung
khitin dan atau selulosa. Pada sedikit species dapat mempunyai flagella sehingga mereka
dapat bersifat motil.
Tubuh fungi dapat uniseluler atau multiseluler. Kebanyakan selnya memiliki inti
lebih dari satu atau multinukleat. Tubuh suatu fungi disebut thalus.
1. Bentuk Pertumbuhan
Meskipun fungi merupakan kelompok organisme yang besar dan sangat bervarias,
berdasarkan bentuk pertumbuhannya secara sederhana fungi dapat dikelompokkan
menjadi dua kelompok besar yaitu fungi uniseluler yang disebut ragi atau khamiratau
204
‘yeast’ dan fungi multiseluler yaitu kapang atau ‘moulds’. Tetapi para ahli lain sering
juga mengelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu kelompok ragi, kapang, dan
cendawan atau ‘mushrooms’ meskipun sebenarnya cendawan itu sendiri adalah bentuk
masa padat dari penyusun suatu kapang yang disebut tubuh buah atau ‘fruiting bodies’.
Dalam buku ini yang akan dibahas adalah pengelompokkan yang pertama yaitu ragi dan
kapang ditambah dengan pembahasan tentang fungi yang mempunyai dua bentuk
pertumbuhan yang bergantian disebut dimorfisme.
a. Khamir (Yeast)
Khamir merupakan fungi uniseluler dan kebanyakan dari mereka termasuk dalam
divisio Ascomycotina. Sel khamir dapat berbentuk bola, oval atau silindris dengan
ukuran diameter bervariasi antara 3-5 mm. Sel khamir dapat sangat bervariasi baik dalam
hal bentuk atau ukurannya. Hal ini bergantung dari umur dan lingkungannya. Khamir
tidak dilengkapi flagel atau organ-organ penggerak lainnya.
Sel khamir jauh lebih besar dari bakteri dan dapat dibedakan dari sel bakteri
selain karena perbedaan ukuran juga dari keberadaan struktur-struktur internalnya.
Contoh khamir yang paling populer adalah dari genus Saccharomyces.
Gambar 8.1 Sel ragi yang membentuk tunas (budding)
(sumber: Brock & Madigan,1991)
Kebanyakan sel khamir memperbanyak diri dengan cara membentuk tunas
(budding) (Gambar 8.1). Meskipun demikian ada sebagian kecil sel khamir yang dapat
memperbanyak diri dengan membelah diri sama besar (binary fission). Dalam proses
pertunasan, mula-mula diawali dengan lisisnya dinding sel pada daerah tertentu. Dengan
205
tidak adanya dinding sel pada daerah tersebut, menyebabkan terjadinya tekanan dari isi
sel keluar membentuk struktur seperti balon yang dikelilingi dinding sel induknya.
Bagian ini kemudian membesar, nucleus membelah secara mitosis dan nucleus hasil
pembelahan kemudian berpindah menuju tunas yang terbentuk tadi. Tunas baru yang
sudah terbentuk dan sudah dilengkapi dengan nucleus kemudian melanjutkan
pertumbuhannya. Setelah pertumbuhan cukup, akhirnya tunas akan melepaskan diri dari
sel induknya dan siklus replikasi telah lengkap (gambar 8.2). Sel khamir yang telah
melepaskan tunasnya seringkali meninggalkan tanda berupa bekas luka (bud scar) pada
dinding selnya (gambar 8.3).
Beberapa species khamir dapat menghasilkan tunas lebih dari satu sebelum
pemisahan tunas terjadi. Bila setelah terbentuk satu tunas tidak dilanjutkan dengan
pemisahan tunas, maka suatu rantai sel berbentuk bola dapat terbentuk. Kegagalan dalam
memisahkan tunas-tunas baru yang terbentuk secara terus menerus akan menyebabkan
dihasilkannya suatu rantai sel khamir yang memanjang yang menyerupai hifa (benang)
dan disebut pseudohyphae (gambar 8.4).
Gambar 8.4 Pembentukan Pseudohyphae pada ragi
(sumber: Brock & Madigan,1991)
Gambar 8.2 Tunas ragi yang telah lepas
dari induknya.
(sumber: Brock & Madigan,1991)
Gambar 8.3 Bekas luka (Budscor/bs) pada sel
ragi yang baru melepaskan tunasnya.
(sumber: Brock &Madigan,1991)



Rhizopus oligosporus merupakan kapang dari filum Zygomycota yang banyak menghasilkan enzim protease. R. oligosporus banyak ditemui di tanah, buah, dan sayuran yang membusuk, serta roti yang sudah lama.[1]
R. oligosporus termasuk dalam Zygomycota yang sering dimanfaatkan dalam pembuatan tempe dari proses fermentasi kacang kedelai, karena R. oligosporus yang menghasilkan enzim fitase yang memecah fitat membuat komponen makro pada kedelai dipecah menjadi komponen mikro sehingga tempe lebih mudah dicerna dan zat gizinya lebih mudah terserap tubuh.[2] Fungi ini juga dapat memfermentasi substrat lain, memproduksi enzim, dan mengolah limbah. Salah satu enzim yang diproduksi tersebut adalah dari golongan protease. [3][2]
Karakteristik
R. oligosporus mempunyai koloni abu-abu kecoklatan dengan tinggi 1 mm atau lebih.[4] Sporangiofor tunggal atau dalam kelompok dengan dinding halus atau agak sedikit kasar, dengan panjang lebih dari 1000 mikro meter dan diameter 10-18 mikro meter.[4] Sporangia globosa yang pada saat masak berwarna hitam kecoklatan, dengan diameter 100-180 mikro meter.[4] Klamidospora banyak, tunggal atau rantaian pendek, tidak berwarna, dengan berisi granula, terbentuk pada hifa, sporangiofor dan sporangia.[5] Bentuk klamidospora globosa, elip atau silindris dengan ukuran 7-30 mikro meter atau 12-45 mikro meter x 7-35 mikro meter.[6]

Penicillium
Penicillium (dari penicillus Latin: kuas) adalah genus dari ascomycetous jamur sangat penting dalam lingkungan alam serta produksi makanan dan obat. Ini menghasilkan penisilin , sebuah molekul yang digunakan sebagai antibiotik, yang membunuh atau menghentikan pertumbuhan beberapa jenis bakteri di dalam tubuh.
Karakteristik
The talus ( miselium ) biasanya terdiri dari jaringan yang sangat bercabang dari multinukleat, septate, biasanya berwarna hifa . Banyak-bercabang konidiofor tumbuh pada miselia dan menanggung individual terbatas conidiospores . Para conidiospores, adalah utama rute penyebaran jamur, dan sering hijau.
Reproduksi seksual melibatkan produksi ascospores , dimulai dengan fusi dari archegonium dan antheridium , dengan berbagi inti. Didistribusikan secara tidak beraturan ASCI berisi delapan ascospores uniseluler masing-masing.
1. Ciri dan sifat fungi (cendawan)
Fungi dalam bahasa Indonesia disebut cendawan. Ciri-ciri cendawan secara umum ialah makhluk hidup eukariotik, heterotrofik (tidak memiliki klorofil), memperoleh nutrisi melalui absorbsi dan enegi simpanannya berupa glikogen. Cendawan mempunyai struktur somatik bersel satu atau banyak (multiseluler), kebanyakan berupa hifa dengan komponen utama dinding selnya ialah zat kitin, serta berkembang biak secara seksual dan aseksual dengan membentuk
spora. Dalam definisi ini, cendawan mencakup jamur, kapang, dan khamir. Jamur (mushroom) ialah cendawan yang tubuh buahnyaberukuran besar dan sebaliknya kapang (moulds) ialah cendawan yang berukuran renik. Khamir (yeast) ialah cendawan bersel tunggal.
Cendawan bukanlah tumbuhan atau hewan. Cendawan tidak memiliki klorofil seperti tumbuhan sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis dan menyimpan karbohidratnya dalam bentuk glikogen bukan pati seperti pada tumbuhan. Cendawan tidak menelan dan mengunyah makanan seperti pada hewan, melainkan merombak makanannya di luar tubuh secara enzimatik dan diserap melalui hifa.
Cendawan termasuk makhluk hidup eukariotik karena sudah memiliki inti sel yang terbungkus membran. Hidupnya bersifat heterotrof dengan menggunakan bahan organik yang sudah tersedia. Bahan organik yang digunakan dapat berupa bahan organik mati (saprotrof) atau bahan organik hidup (simbiosis). Simbionsis dapat
bersifat antagonistik (Gambar 7.1) dan mutualistik (Gambar 7.2). Cendawan yang melakukan simbioisis antagonistik dapat menyebabkan penyakit parasitik yang merugikan makhluk hidup inangnya. Sebaliknya, cendawan yang membentuk simbiosis mutualistik menguntungkan baik inang maupun cendawannya itu sendiri. Inang untuk cendawan ialah tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme termasuk cendawan.

Rabu, 27 Oktober 2010

Tugas Daskom hayril

Komponen-Komponen Komputer

Komputer terdiri dari tiga komponen utama yang tidak dapat dipisahkan, yaitu ;

1. Hardware (perangkat keras), Merupakan peralatan fisik dari komputer yang dapat kita lihat dan rasakan. Hardware ini terdiri dari ;

* Input/Output Device (I/O Device) Terdiri dari perangkat masukan dan keluaran, seperti keyboard dan printer.
* Storage Device (perangkat penyimpanan) Merupakan media untuk menyimpan data seperti disket, harddisk, CD-I, flash disk dll.
* Monitor /Screen Monitor merupakan sarana untuk menampilkan apa yang kita ketikkan pada papan keyboard setelah diolah oleh prosesor. Monitor disebut juga dengan Visual Display Unit (VDU).
* Casing Unit adalah tempat dari semua peralatan komputer, baik itu motherboard, card, peripheral lain dan Central Procesing Unit (CPU).Casing unit ini disebut juga dengan System Unit.
* Central Procesing Unit (CPU) adalah salah satu bagian komputer yang paling penting, karena jenis prosesor menentukan pula jenis komputer. Baik tidaknya suatu komputer, jenis komputer, harga komputer, ditentukan terutama oleh jenis prosesornya.Semakin canggih prosesor komputer, maka kemampuannya akan semakin baik dan biasanya harganya akan semakin mahal.

2. Software (perangkat lunak), merupakan program-program komputer yang berguna untuk menjalankan suatu pekerjaan sesuai dengan yang dikehendaki. Program tersebut ditulis dengan bahasa khusus yang dimengerti oleh komputer. Software terdiri dari beberapa jenis, yaitu ;

* Sistem Operasi, seperti DOS, Unix, Linux, Novell, OS/2, Windows, Adalah software yang berfungsi untuk mengaktifkan seluruh perangkat yang terpasang pada komputer sehingga masing-masingnya dapat saling berkomunikasi. Tanpa ada sistem operasi maka komputer tak dapat difungsikan sama sekali.
* Program Utility, seperti Norton Utility, Scandisk, PC Tools, dll.Program utility berfungsi untuk membantu atau mengisikekurangan/kelemahan dari system operasi, misalnya PC Tools dapat melakukan perintah format sebagaimana DOS, tapi PC Tools mampu memberikan keterang dan animasi yang bagus dalam proses pemformatan. File yang telah dihapus oleh DOS tidak dapat dikembalikan lagi tapi dengan program bantu hal ini dapat dilakukan.
* Program Aplikasi, seperti GL, MYOB, Payroll dll. Merupakan program yang khusus melakukan suatu pekerjaan tertentu, seperti program gaji pada suatu perusahaan. Maka program ini hanya digunakan oleh bagian keuangan saja tidak dapat digunakan oleh departemen yang lain. Biasanya program aplikasi ini dibuat oleh seorang programmer komputer sesuai dengan permintaan / kebutuhan seseorang / lembaga/ perusahaan guna keperluan interennya.
* Program Paket, seperti Microsofr office, Adobe fotoshop, macromedia studio, open office dll Adalah program yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat digunakan oleh banyak orang dengan berbagai kepentingan. Seperti MS-office, dapat digunakan oleh departemen keuangan untuk membuat nota, atau bagian administrasi untuk membuat surat penawaran dan lain sebagainya.
* Bahasa Pemrograman, PHP, ASP, dBase, Visual Basic, dll.Merupakan software yang khusus digunakan untuk membuat program komputer, apakah itu sistem operasi, program paket dll. Bahasa

pemrograman ini biasanya dibagi atas 3 tingkatan, yaitu ;

o Low Level Language, bahasa pemrograman generasi pertama,bahasa pemrograman jenis ini sangat sulit dimengerti karena instruksinya menggunakan bahasa mesin. Biasanya yang mengerti hanyalah pembuatnya saja.

o Midle Level Language, merupakan bahasa pemrograman tingkat menengah dimana penggunaan instruksi sudah mendekati bahasa sehari-hari, walaupun begitu masih sulit untuk di mengerti karena banyak menggunakan singkatansingakatan seperti STO artinya simpan (singkatan dari STORE) dan MOV artinya pindah (singkatan dari MOVE).Yang tergolong kedalam bahasa ini adalah Assembler, ForTran (Formula Translator).

o High Level Language, merupakan bahasa tingkat tinggi yang mempunyai cirri mudah dimengerti, karena menggunakan bahasa sehari-hari, seperti BASIC, dBase, Visual Basic, VB.Net dll.

3. Brainware (User),

User adalah personel-personel yang terlibat langsung dalam pemakaian komputer,seperti Sistem analis, programmer, operator, user, dll. Pada organisasi yang cukup besar, masalah komputerisasi biasanya ditangani oleh bagian khusus yang dikenal dengan bagian EDP (Electronic Data Processing), atau sering disebut dengan EDP Departemen, yang dikepalai oleh seorang Manager EDP.

Kamis, 21 Oktober 2010

Tugas Fistum Hayril Anwar


Tugas Fisiologi Tumbuhan
Metabolisme
Santorio Santorio (1561-1636) diyakini pertama kali melakukan eksperimen atas metabolisme dengan menggunakan timbangan besar.
Metabolisme (bahasa Yunani: μεταβολισμος, metabolismos, perubahan) adalah semua reaksi kimia yang terjadi di dalam organisme, termasuk yang terjadi di tingkat selular.
Metabolisme merupakan aktivitas hidup yang selalu terjadi pada setiap sel hidup, pada
metabolism sel bahan dan energy diperoleh dari lingkungan sel yang berupa cairan.
Cairan yang mengelilingi sel disebut cairan ekstrasel. Cairan ini terdiri dari ion dan gas
berikut:
1. Gas (terutama o2 dan CO2)
2. Ion anorganik (terutama Na+, Cl- ,K , Ca++, HCO3, PO4).
3. Zat organic (makanan dan vitamin )
4. Hormone
Mekanisme pertukaran zat dalam sel dengan cairan eksternal melalui lima cara, yaitu
difusi, osmosis, transport aktif, endositosis, dan eksositosis.
Bahan yang terdapat dalam cairan sel dapat digunakan sebagai bahan baku gula, asam
lemak, gliserol dan asam aminoyang kemudian disusun menjadi makromolekul sel seperti
polisakarida, lipid dan protein asam nukleat.
Metabolism dapat dogolongkan menjadi dua, yaitu anabolisme dan proses pembongkaran
yang disebut katabolisme.

Secara umum, metabolisme memiliki dua arah lintasan reaksi kimia organik,
Kedua arah lintasan metabolisme diperlukan setiap organisme untuk dapat bertahan hidup. Arah lintasan metabolisme ditentukan oleh suatu senyawa yang disebut sebagai hormon, dan dipercepatkan oleh senyawa organik yang disebut sebagai enzim. Pada senyawa organik, penentu arah reaksi kimia disebut promoter dan penentu percepatan reaksi kimia disebut katalis.
Pada setiap arah metabolisme, reaksi kimiawi melibatkan sejumlah substrat yang berinteraksi dengan enzim pada jenjang-jenjang reaksi guna menghasilkan senyawa intermediat yang lazim disebut dengan metabolit, yang merupakan substrat pada jenjang reaksi berikutnya. Keseluruhan pereaksi kimia yang terlibat pada suatu jenjang reaksi disebut metabolom. Semua ini dipelajari pada suatu cabang ilmu biologi yang disebut metabolomika.

Jalur metabolisme
Jalur-jalur metabolisme penting mencakup:
Katabolisme
Jalur katabolisme yang menguraikan molekul kompleks menjadi senyawa sederhana mencakup:
Anabolisme
Jalur anabolisme yang membentuk senyawa-senyawa dari prekursor sederhana mencakup:
Metabolisme nitrogen
Metabolisme nitrogen mencakup jalur-jalur sirkulasi (turnover) dan ekskresi nitrogen dalam organisme maupun proses-proses biologis daur nitrogen di alam:

Selasa, 12 Oktober 2010

denyut jantung Daphnia sp


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Daphnia sp. adalah salah satu spesies dari Crustacea berupa plankton. Hewan ini hidup di air tawar dan mudah ditemukan di kolam. Tubuhnya transparan dan tidak berwarna, apabila air sebagai tempat hidupnya teraerasi dengan baik. Alat gerak utamanya adalah antena yang mengatur gerakan ke atas dan bawah. Daphnia selalu ditemukan di tempat hidupnya dalam posisi kepala di atas. Kepala terbentuk sebagai persatuan segmen-segmen, kadang-kadang bersatu dengan dada membentuk cephalotoraks.
Daphnia ini merupakan hewan poikiloterm, yaitu suhu tubuhnya selalu berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan. Jantung Daphnia sp. meruapakan struktur globular kecil dibagian anterodorsal tubuh. Kecepatan denyut jantungnya dipengaruhi beberapa faktor antara lain aktivitas, ukuran dan umur, cahaya, temperatur (suhu), Obat-obat (senyawa kimia). Suhu mempengaruhi proses fisiologi organisme termasuk frekuensi denyut jantung. Suhu tubuh yang konstan sangat dibutuhkan oleh hewan karena perubahan suhu dapat mempengaruhi konformasi protein dan aktivitas enzim. Apabila aktivitas enzim terganggu, reaksi dalam sel juga akan terganggu. Oleh karena itu, dilakukan percobaan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kecepatan denyut jantung Daphnia sp.
2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara mengukur frekuensi denyut jantung Daphnia?
2. Bagaimanakah frekuensi denyut jantung dan pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia?
3. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui cara mengukur frekuensi denyut jantung Daphnia
2. Mengidentifikasi frekuensi denyut jantung dan pengaruh suhu terhadap denyut jantung Daphnia

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Daphnia sp. termasuk dalam golongan udang-udangan, namun dalam proses perkembangan belum lebih jauh. Lapisan luar mengalami molting atau ecdisis sebanyak 17 kali. Mulut Daphnia sp. terdiri dari satu labrum, satu pasang mandibula, satu buah labium (Radiopoetro, 1977). Menurut Djarijah (1995) mengatakan bahwa Daphnia sp. merupakan organisme yang termasuk keluarga besar phyllum Arthropoda, kelas Crustacea. Ciri khas organisme tersebut adalah bentuknya gepeng ke samping (memampat ke samping) dan beruas-ruas (Djarijah, 1995).
Menurut Waterman (1960) mengemukakan bahwa hewan kecil memiliki frekuensi denyut jantung yang lebih cepat dari pada hewan dewasa baik itu pada suhu atau temperatur panas, sedang, dingin, maupun alkoholik. Hal ini disebabkan adanya kecepatan metabolik yang dimiliki hewan kecil tersebut. Menurut Pennak (1853) mekanisme kerja jantung Daphnia sp. berbanding langsung dengan kebutuhan oksigen per unit berat badannya pada hewan-hewan dewasa. Daphnia sp. sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada suhu 220 – 310º C dan pH 6,5 – 7,4 yang mana organisme ini perkembangan larva menjadi dewasa dalam waktu empat hari (Djarijah, 1995).
Organisme ini dikenal oleh masyarakat pada umumnya disebut sebagai kutu air, namun sebenarnya organisme ini termasuk dalam zooplankton. Menurut Barness (1966) menyatakan bahwa denyut jantung Daphnia sp. pada keadaan normal sebanyak 120 denyut per menit. Pada kondisi tertentu kecepatan rata-rata denyut jantung Daphnia sp. ini dapat berubah-ubah disebabkan oleh beberapa faktor misalnya denyut jantung lebih cepat pada waktu sore hari, pada saat densitas populasi rendah, pada saat betina mengerami telur. Padawaktu temperatur turun maka laju metabolisme turun dan menyebabkan turunnya kecepatan pengambilan oksigen. Menurut Waterman (1960) pada lingkungan dengan suhu tinggi akan meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia sp.
Daphnia termasuk filum Arthropoda atau hawan beruas-ruas. Mempunyai tubuh yang bersegmen yang terbungkus dalam suatu eksoskeleton (rangka luar) bersegmen yang kuat terdiri terutama atas kitin, suatu polimer dari N-Asetiglukoamin (NAG). Daphnia termasuk subfilum mandibulata yang memiliki mandibula yaitu sepasang bagian mulut yang digunakan untuk makan dan mempunyai antenna. Subfilum ini dibagi dalam empat kelas yaitu Crustaceae, Chilopoda, Diplopoda, dan Insekta.
Daphniasendiri termasuk dalam kelas Crustaceae berupa plankton yang memiliki ciri-ciri kaliserata, kepala dan thoraks yang melebur menjadi cephalothoraks. Daphnia bernapas dengan insang.
Hewan ini hidup di air tawar dan mudah ditemukan dikolam. Tubuhnya transparan dan tidak berwarna, apabila air sebagai tempat hidupnya teraerasi dengan baik. Alat gerak utamanya adalah antena yang mengatur gerakan ke atas dan ke bawah. Daphnia selalu ditemukan ditempat hidupnya dengan posisi kepala diatas. Jantung Daphnia merupakanstruktur globular anterodorsal badan. Kecepatan denyut jantunya dipengaruhi beberapa faktor antara lain suhu lingkungan. Suhu mempengaruhi proses fisiologis organisme termasuk frekuensi denyut jantung. Penaikan ataupun penurunan tersebut dapat mencapai dua kali aktivitas normal. Perubahan aktivitas akibat pengaruh suhu. Aktivitas akan naik seiring dengan naiknya suhu sampai pada titik dimana terjadi kerusakan jaringan, kemudian diikuti aktivitas yang menurun dan akhirnya terjadi kematian. Pada suhu sekitar 10oC dibawah atau diatas suhu normal suatu jasad hidup dapat mengakibatkan penurunan atau kenaikan aktivitas jasad hidup tersebut kurang lebih dua kali pada suhu normalnya, sedangkan perubahan suhu yang tiba-tiba akan mengakibatkan terjadinya kejutan atau shock biasanya dikaitkan dengan koefisien aktivitas.
Jantung berupa kantong berbentuk pelana terletak di dalam thoraks sebelah dorsal ditengah-tengah. Ini dianggap sebagai suatu peleburan pembuluh sebelah dorsal serupa cacing tanah. Jantung terikat pada dinding-dinding Sinus pericardii dengan perantara sejumlah ligamenta. Tiga pasang lubang yang dilengkapi dengan valva disebut ostia (bentuk tunggal ostium) yang memungkinkan darah masuk kembali dari sinus yang melingkunginya.
Ujung anterior jantung mempercabangkan lima buah arteriae, ialah :
1. Anteria ophthalmica, terletak disebelah dorsal ditengah-tengah, berjalan kearah anterior disebelah dorsal ventriculus, mengalir darah untuk pars cardiaca ventriculi, esophagus dan kepala.
2. Dua buah anteriae terletak dikanan kiri anteria opthalmica dengan cabang-cabangnya menuju ke pars cardiaca ventriculi, antennae, alat-alat ekskresi, dan menuju otot-otot dan jaringan-jaringan lain didaerah kepala.
3. Dua buah arteriae hepaticae, langsung menuju kelenjar-kelenjar pencernaan.
Dari sisi ventral jantung keluar satu arteria yang berjalan ke arah posterior menuju daerah abdomen. Arteria ini dekat pangkalnya mempercabangkan arteria yang kemudian terbagi dua, satu berjalan ke arah anterior menuju ke daerah ventral abdomen dan extremitas pada abdomen.
Pemeliharaan suhu tubuh didalam suatu kisaran yang membuat sel-sel mampu berfungsi secara efisien. Hewan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok berdasarkansumber utama panas tubuhnya yaitu Eksotermik dan Endotermik. Eksotermik merupakan hewan yang memperoleh panas tubuh dari lingkungan. Hewan eksotermik meliputi sebagian besar invertebrata, ikan, amphibi, dan reptilia. Sedangkan endotermik adalah hewan yang mendapatkan sebagian panas tubuhnya yang berasal dari metabolisme tubuh nya sendiri. Hewan endotermik mempertahankan suhu lingkungan internal yang hampir konstan meskipun suhu sekelilingnya berfluktuasi.
Termoregulasi melibatkan penyesuaian fisiologis dan perilaku. Baik hewan eksotermik maupun endotermik mengatur suhu tubuhnya menggunakan beberapa kombinasi dari empat katagori umum adaptasi :
1. Penyesuaian laju pertukaran panas antara hewan dan sekelilingnya.
2. Pendinginan melalui kehilangna panas evaporativ
3. Respon perilaku
4. Pengubahan laju produksi panas metabolik
Banyak hewan dapat menyesuaikan diri dengan kisaran baru suhu lingkungan dalam waktu beberapa hari atau beberapa minggu yang merupakan sesuatu respon fisiologis yang disebut aklimatisasi. Perubahan musiman merupaka satu konteks dimana penyesuaian fisiologis terhadap kisaran baru lingkungan menjadi penting. Penyesuaian fisiologis terhadap kisaran suhu baru eksternal terdiri dari banyak tahap. Hal ini bisa melibatkan dalam mekanisme yang mengontrol suatu hewan.
– Pengaruh suhu
Suhu merupakan salah satu pembatas penyerapan hewan dan menentukan aktivitas hewan. Banyak hewan yang suhu tubuhnya disesuaikan dengna suhu linhkungan yang disebut dalam kelompok hewan poikilitermik. Poikilotermik berarti suhu berubah (labil) sesuai dengan perubahan suhu lingkungan. Jadi suhu tubuh hewan poikilotermik mengikuti atau bergantung pada suhu lingkungan.
Menghadapi fluktuasi suhu lingkungan hewan poikilotermik melakukan konformitas suhu (termokonformitas), suhu tubuhnya terfluktuasi sesuai dengan suhu lingkungannya.Laju kehilangan panas pada hewan poikilotermik lebih tinggi dari pada laju produksi panas, sehingga suhu tubuhnya ditentukan oleh suhu lingkungan eksternalnya dari pada suhu metabolisme internalnya. Dilihat dari ketergantungan terhadap suhu lingkungan. Hewan poikilotermik disebut juga sebagai hewan ektoterm.
Menghadapi suhu lingkunganya, hewan homeotermik melakukan regulasi suhu (termoregulasi), suhu tubuhnya konstan walaupun suhu lingkungannya berfluktuasi (sampai pada batas tertentu). Kehilangan panas lebih sedikit dibandingkan dengan laju produksi panas internalnya, sehingga suhu tubuhnya lebih ditentukan oleh suhu internalnya.
Perubahan suhu memiliki pengaruh besar terhadap berbagai tahap proses fisiologi. Misalnya, pengaruh suhu terhadap konsumsi oksigen. Dalam batas-batas toleransi hewan, kecepatan konsumsi oksigen akan meningkat dengan meningkatnya suhu lingkungan. Pada seekor hewan yang memiliki rentangan suhu toleransi luas, kecepatan konsumsi oksigennya akan meningkat dengan cepat begitu suhu lingkunganya naik. Suatu metode untuk menghitung pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi adalah perkiraan Q10, yaitu peningkatan kecepatan proses yang disebabkan oleh peningkatan suhu 10oC. Q10 merupakan perbandingan antara laju reaksi (A) yang terjadi pada suhu (t + 10)oC dan laju reaksi (A) pada suhu t0 oC atau dapat dituliskan dengan rumus :
Q10 = A ( t + 10)oC
A ( t0)oC
Pada seekor hewan yang memiliki rentangan suhu toleransi luas, kecepatan konsumsi oksigenya akan meningkat dengan cepat begitu suhu lingkungannya naik. Bila pengaruh suhu terhadap kecepatan konsumsi oksigen ini digambarkan grafiknya, akan diperoleh kurva eksponensial.
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia.
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi (Swenson, 1997). Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm sering disebut hewan berdarah panas (Duke’s, 1985).
Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air (Swenson, 1997).
Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung dan mamalia, hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya (Guyton, 1987).
Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi
Termoregulasi Sistem Pengaturan Panas)Berdasarkan kemampuannya untuk mempertahankan suhu tubuh, hewan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Poikiloterm,
2. Homeoterm.
Yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu konstan/tidak berubah sekalipun suhu lingkungannya sangat berubah.
Jenis-jenis dan macam-macam adaftasi

1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.
2. Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.
3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.
Termoregulasi pada Manusia
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya
Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu, yautu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.Dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur pengeluaran panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh. Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima kembali oleh sensor panas dan sensor dingin melalui peredaran darah.
Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Mausia menggunakan baju merupakan salah satu perilaku unik dalam termoregulasi
Metabolisme sangat sensitifterhadap perubahan suhu lingkungan internal seekor hewan misalnya laju resfirasi seluler meningkatseiring peningkatan suhu sampai titik tertentu dan kemudian menurun ketika suhu itu sudah cukup tinggi sehingga mulai mendenaturasi enzim sifat-sifat membran juga berubah denag perubahan suhu setip hewan mempunyai kiasan suhu yang optimum. Termoregulasi adalah pemeiharaan suhu tubuh didalam suatu kiasan yang membuat sel-sel mampu berfungssi secara efisien ada empat proses fisik yang bertanggung jawab atas peroehan panas dan kehiangan panas yaitu:
a. Konduksi yaitu peerpindahan langsung gerakan termal (panas) antara moekul-moekul lingkungan dengan moeku-moekupermukaan tubuh misalnya seekor hewan duduk dalam koam air dingin atau diatas batu yang panas panas akan selalu dihantarkan dari benda bersuhu ebih tinggi kebenda bersuhu ebih rendah.
b. Konveksi yaitu perpindahn pans melalui pergerakan udara atau cairan melewati permukaan tubuh seperti ketika tiupan angin turut menghilangkan panas dari permukaan tubuh hewan yang berkuit kering
c. Radiasi yaitu pancaran gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh semua benda yang ebih hangat dari suhu yang absolute noltermasuk tubuh hewan dan matahari contohnya hewan menyerap panas radiasi dari matahari
d. Evaporasi atau penguapan adalah kehilangan panas dari permukaan cairan yang hiang berupa moekulnya yang berubah menjadi gas evaporasi air dari seekor hewan member efek pendinginan yang signipikanpada permukaakn hewan itu. Konveksi dan evaporasi merupakan penyebab kehiangan panas yang paling berpariasi (CampbeReece,Micche:2004)
Hewan ektotrm sangat bergantung pada suhu diingkungan lainnya untuk meningkatkan suhu tubuh karena panas yng dihasilkan dari keseuruhan sistem metabolism hanya sedikit banyak cara yng dapat memperkecil masalah yang dihadapi oleh hewan ektoterm akuatik jumah air yang besar disekeliingnya memiiki suhu yang reatif stabil sebagai contoh hilangnya panas secara evaporasi dan perubahan panas akibat jiga sangat berkurang karena air adaah penyerrap radiasi sinar infra merah yang efektip. Ini bberarti bahwa suhu tubuh dari ektoterm akuatikadalah sama dengan suhu air dimana ia hidup, air juga merupakan penyerap panas yang sangat reatif. Pada ikan kehilangan panas hasil metabolisme yang utama adalah melalui insang sesuai dengan peruntukannya insang harus tipis dan dilengkapi jalinan pembuluh darah agar memenuhi sarat sebagai pertukaran udara kondisi ini memungkinkan terjadinya kehiangan panas dari darah sewaktu melewati insang (darmaji Goenarso;2005)
Trermoreguasi meibatkan penyesuaian pisioogis dan periaku ektodermik dan endodermik, laju pertukaran panasnya dengan ingkungan eksternalnya dengan cara pendinginan melalui araporasi dan melalui dan mealui respon periaku burung dan mamaia dapat mengubah aju produksi panas metaboik insuasi, vasolidatasi dan penukar panas awan arus meng mengubah laju pertukaran panas mengeluarkan lidah berkeringant dan mandi berendam meningkatkan penguapan, sebagian besar hewan serangga dan hewan atau ikan membangkitkan panas metabolic melalui petukaran panas awan arus, beberapa invertebrate, amphibian dan reptilia mempertahankan suhu internal yang dapat ditoleris melalui penyesuaian periaku. Mekanisme termoreguasi pada mamalia dan burung meliputi termogenenesis mengigil dan tak mengigil, insulasi oeh emak ranmbut atau bulu, torpor menghemat energi selama kondisi lingkungan yang eekstrim, torpor meliputi penurunan laju metabolisme denyut jantung dan laju pernapasan serta membuat hewan tersebut mampu untuk smentara menahan suhu yang tidak sesuai atau kekurangan makanan dari air (Compbe.Reece,Michell:2004)



BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Jenis penelitian
Pada percobaan jantung Daphnia termasuk penelitian eksperimental, karena dalam percobaan ini membandingkan kerja jantung Daphnia dalam berbagai macam kondisi atau suhu.

B. Variabel penelitian
1. Variabel kontrol : Jenis Daphnia
2. Variabel manipulasi : Suhu
3. Variabel Respon :Frekuensi denyut jantung Daphnia
C. Metode percobaan
1. Alat dan bahan :
• Alat :
1) Mikroskop
2) Gelas obyek
3) Gelas piala
4) Gelas arloji
5) Pipet tetes
6) Termometer
• Bahan :
1) Daphnia
2) Air biasa
3) Es batu
4) Air hangat
2. Langkah kerja :
a. Menyiapkan kultur Daphnia pada suhu awal (10 ºC, 15ºC, 20ºC, 25ºC). Meletakkan Daphnia pada gelas arloji yang berada pada suhu yang telah ditentukan (Daphnia diletakkan di atas es batu atau air dengan suhu yang dikehendaki).
b. Memindahkan secara hati-hati seekor Daphnia pada gelas obyek yang cekung atau gelas arloji lain dengan menggunakan pipet kemudian melihat di bawah mikroskop. Daphnia bisa juga diletakkan di atas gelas obyek datar.
c. Menambahkan air secukupnya agar tidak kekeringan. Jangan menambahkan air terlalu banyak, karena Daphnia akan mudah bergerak dan sulit diatur posisinya. Mengatur letak Daphnia dengan posisi tubuh miring hingga jantungnya tampak jelas dan mudah diikuti denyutnya. Apabila menggunakan gelas arloji atau gelas obyek datar tidak perlu ditutup dengan kaca penutup.
d. Setelah tampak denyut jantung Daphnia. Menghitung jumlah denyut jantung setiap 15 detik (dengan menggunakan jarum penunjuk detik pada arloji). Membuat tiga kali pengukuran dan dirata-rata hasilnya. Pada setiap kali pengukuran suhu harus tetap pada suhu yang dikehendaki. Jika perlu setiap selesai satu kali pengukuran Daphnia dikembalikan pada air dengan suhu yang telah ditentukan, karena lampu mikroskop dapat dengan cepat menaikkan suhu obyek pada meja obyek.
e. Selanjutnya memindahkan Daphnia ke tempat baru (10 ºC lebih tinggi dari suhu awal).
f. Mengukur denyut jantung Daphnia pada suhu yang baru. Melakukan pengukuran seperti cara / langkah pada urutan d.

BAB IV
DATA DAN ANALISIS

A. Data
Tabel Pengaruh Suhu Terhadap Denyut Jantung Daphnia Sp.

Suhu awal (oc) Denyut jantung Suhu akhir (oc) Denyut jantung Q10
10º C 34 20 º C 42 Q10 = 42
35
= 1,20
36 42
35 42
Rata-rata 35 Rata-rata 42
15 º C 36 25 º C 43 Q10 = 44
36
= 1,22
36 44
35 44
Rata-rata 36 Rata-rata 44
20 º C 38 30 º C 45 Q10 = 46
38
= 1,21
38 47
38 46
Rata-rata 38 Rata-rata 46
25 º C 38 35 º C 52 Q10 = 51
39
= 1,30
39 50
39 51
Rata-rata 39 Rata-rata 51







B. Grafik
Grafik Pengaruh Suhu Terhadap frekwensi Denyut Jantung Daphnia sp




C. Analisis
Berdasarkan data dan grafik hasil percobaan yang telah kami peroleh ternyata suhu mempengaruhi frekuensi denyut jantung. Hal ini terbukti pada hasil percobaan yaitu pada suhu awal 10oC rata-rata denyut jantung adalah 35 kali dimana dilakukan 3 kali pengukuran dengan frekwensi 2,33 Hz. Pada percobaan berikutnya yaitu suhu 15oC, 20oC, dan 25oC yang dilakukan 3 kali pengukuran juga terjadi kenaikan suhu dengan rata-rata denyut jantung masing-masing suhu sebagai berikut 36 kali, 38 kali dan 39 kali.
Pengaruh suhu terhadap rata-rata denyut jantung juga terlihat pada perubahan suhu kultur dari suhu awal yang diubah menjadi suhu akhir yakni 10oC menjadi 20oC, 15oC menjadi 25oC, 20oC menjadi 30oC dan 25oC menjadi 35oC. Rata-rata denyut jantung tidak hanya kenaikan pada suhu awal namun pada suhu akhir juga mengalami peningkatan seiring dengan peningkatkan suhu yang masing-masing besarnya adalah 42; 44; 46 dan 51kali.
Setelah diperoleh rata-rata denyut jantung pada suhu awal dan suhu akhir kemudian melakukan perhitungan akhir untuk menentukan koefisien kecapatan denyut jantung pada (Q10) yaitu dengan membagi suhu akhir dengan suhu awal. Dari perhitungan yang telah dilakukan diperoleh hasil pada suhu 10oC - 20 oC; suhu 15oC - 25oC; suhu 20oC - 30oC; dan suhu 25oC - 35oC masing-masing sebesar 1,20; 1,22; 1,21; dan 1,3. Ini menunjukkan bahwa pada suhu dingin atau rendah kecepatan denyut jantung Daphnia sp lebih lambat dari pada saat suhu tinggi.
Denyut jantung Daphnia pada suhu awal 20oC dengan suhu akhir yang sama 20o C menunjukkan jumlah denyut jantung yang berbeda. Yaitu 38 dengan 42 denyutan per 15 detik. Begitu pula dengan suhu 25o awal dengan 25o akhir, yaitu 39 dengan 44 denyutan per 15 detik.

D. Pembahasan
Dari analisis data dan grafik di atas terlihat bahwa respon denyut jantung Daphnia mengalami peningkatan frekuensi denyut jantung dari suhu lingkungan rendah menuju ke suhu lingkungan tinggi. Respon denyut jantung Daphnia yang demikian terjadi karena Daphnia merupakan hewan poikiloterm dapat juga disebut ektoterm karena suhu tubuhnya ditentukan dan dipengaruhi oleh suhu lingkungan eksternal yaitu jika suhu lingkungan berubah maka suhu tubuh pada daphnia juga berubah seiring dengan suhu lingkungan, hal ini dipergunakan daphnia untuk menyesuaikan diri agar metabolism dalam tubuh tetap berjalan dan dapat bertahan hidup.
Sehubungan bahwa daphnia merupakan hewan poikiloterm atau/ ektoterm, maka pada suhu yang semakin meningkat, dapnia juga akan melakukan adaptasi morfologis yang serupa dengan hewan ektoterm pada umumnya yaitu dengan mempertinggi konduktan dan mempercepat aliran darah agar panas mudah terlepas dari tubuh, karena afinitas hemoglobin dalam mengikat oksigen turun. Mekanisme adaptasi fisiologi ini juga mempengaruhi peningkatan frekuensi denyut jantung pada daphnia. Hewan ini dapat memperoleh energi panas dari lingkungan.energi inilah yang digunakan untuk melangsungkan metabolisme.
Daphnia mempunyai jantung dibagian anterodorsal dengan struktur globular kecil yang kecepatan denyut jantungnya dipengaruhi oleh suhu. Sehingga suhu tubuh yang semakin tinggi akan mengakibatkan molekul-molekul memiliki energi kinetik yang semakin tinggi, oleh karena energi kinetik semakin besar dan kemungkinan terjadi tumbukan antara molekul yang satu dengan yang lain semakin besar, hal ini akan berakibat pada proses meningkatnya frekuensi denyut jantung. Selain itu kenaikan suhu juga berpengaruh pada metabolisme Daphnia sp. Yakni semakin tinggi suhu maka metabolisme akan seakin meningkat, sehingga dapat meningkatkan detak jantung.
Sebenarnya hal ini terjadi pada batas tertentu saja. Ini terkait dengan enzim yan merupakan pengatur metabolisme dalam tubuh, yang mempunyai suhu optimum dalam kerjanya. Apabila suhu lingkungan atau suhu tubuh meningkat drastis, maka enzim-enzim yang bekerja mengalami denaturalisasi sehingga tidak dapat mengerjakan fungsinya, begitu juga ketika suhu lingkungan menurun drastis maka enzim-enzim tidak dapat bekerja dengan baik. Pada praktikum kami suhu yang diberikan masih di atas suhu minimum dan belum melewati suhu maksimum sehingga denyut jantung tetap meningkat dan tidak mengganggu kerja metabolisme.
Begitu juga ketika Daphnia dikejutkan (shocking) dengan penambahan suhu 10oC lebih tinggi dari suhu awal, maka secara fisiologis Daphnia akan berusaha beradaptasi dengan lingkungan bersuhu tinggi tersebut melalui peningkatan metabolisme tubuh, sehingga akan meningkatkan denyut jantung Daphnia. Oleh karena itu, hasil praktikum kami dari Daphnia yang di shocking ditunjukan dengan bentuk grafik yang meningkat dan terlihat juga garis denyut jantung yang dishocking berada di atas denyut jantung tanpa shocking.
Sebenarnya selain suhu, kecepatan denyut jantung Daphnia juga dipengaruhi oleh umur dan ukuran tubuh Daphnia itu sendiri. Menurut Waterman (1960) mengemukakan bahwa hewan kecil memiliki frekuensi denyut jantung yang lebih cepat dari pada hewan dewasa, baik itu pada suhu atau temperatur panas, sedang, dingin, maupun alkoholik. Hal ini disebabkan adanya kecepatan metabolik yang dimiliki hewan kecil tersebut. Menurut Pennak (1853) mekanisme kerja jantung Daphnia sp. berbanding langsung dengan kebutuhan oksigen per unit berat badannya pada hewan-hewan dewasa. Daphnia sp. sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada suhu 220 – 3100C dan pH 6,5 – 7,4 yang mana organisme ini perkembangan larva menjadi dewasa dalam waktu empat hari (Djarijah, 1995).
Dilihat dari struktur daphnia memiliki ukuran tubuh yang amat kecil, sehingga pada daphnia memiliki luas permukaan yang luas sehingga dalam pelepasan panas dia lebih tidak efisien, sedang pada dasarnya denyut jantung juga dipengaruhi oleh suhu dan suhu dapat diserap dan dilepas oleh tubuh, maka jika terjadi perubahan suhu pada lingkungan mengakibatkan dapnia beradaptasi yang membuat aktivitas denyut jantung semakin cepat. Apabila suhu semakin meningkat metabolisme dalam tubuh akan terpicu dikarenakan pula oleh kerja enzim dalam metabolisme.






BAB V
SIMPULAN

Berdasarkan analisis data hasil percobaan yang telah kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Makin tinggi suhu, maka makin cepat aktivitas atau frekuensi denyut jantung Daphnia Sp.
2. Kenaikan suhu 10oC dibawah atau diatas suhu normal dapat mengakibatkan penurunan atau kenaikan aktivitas Daphnia Sp. Menjadi satu kali pada suhu normal Daphnia Sp.













DAFTAR PUSTAKA


Diakses pada tanggal 20 November 2009
http://anwarulah.blogspot.com/2009/10/termoregulasi.html
http://alfanisti.blogspot.com/2009/06/kualitas-air-taman-nasional-alas-purwo.html
http://muslikhin.blogspot.com/
http://adenurodin.blogspot.com/
http://windanurdiani.blogspot.com/
(http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasi-pengaturan-suhu-tubuh/)
(http://feylana.wordpress.com/2008/06/21/termoregulasi/)
(http://sakura.890m.com/TUGAS_02/index5-1.html)
(http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasi-pengaturan-suhu-tubuh/)